Wednesday, April 23, 2008

BERDZIKIR HAMBAKU, BERDZIKIR

Emha Ainun Nadjib

Kalian berdzikir "Subhanallah"
Maha Suci Allah, Maha Suci Allah
Apa benar kalian mensucikan Aku?
Apa benar kehidupan kalian mensucikan Aku?
Apa benar watak dan perilaku kalian, kebudayaan
dan kemajuan bangsa kalian - mensucikan Aku?

Kalian berdzikir "Alhamdulillah"
Segala puji bagi Allah, Segala puji bagi Allah
Apa benar perekonomian kalian memuji Aku?
Apa benar gedung-gedung kalian, kantor-kantor kalian,
pertimbangan dan keputusan kalian, kasih dan sepak
terjang kalian
- memuji Aku?

Kalian berdzikir "Wa lailaha illallah",
Tiada tuhan selain Allah
Hai hamba-Ku, apa benar Akulah yang kalian tuhankan?
Apa benar Aku faktor primer dalam bagan strategi
sejarah kalian?
Apa benar Aku yang nomor satu di dalam kerangka akal
dan susunan pikiran kalian
Apa benar cinta kalian mendasar kepadaKu?
Apa benar Aku sedang menarik hati kalian,
dibanding uang, keuntungan dan kekuasaan dunia?

Kalau Aku ikut Kontes Idola, apakah kalian kirim sms
untuk memenangkan
Aku?
Kalian berdzikir "Allahu Akbar"
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar
Wahai hamba-Ku, apa tanda kebesaranKu
di negeri penyembah berhala yang kalian
bangga-banggakan ini?
Di bagian mana dari kebudayaanmu,
Di sebelah mana dari langkah politikmu
Di sudut mana dari gedung-gedung megah industrimu
Yang mencerminkan keunggulanKu?

Kau lakukan kedhaliman di sana-sini
Merata di seantero negeri
Kedhaliman yang samar sampai yang transparan
Kedhaliman struktural, sistemik
Bahkan kedhaliman yang telanjang dan kasat mata
Kedhaliman bahkan kepada dzatKu
Kepada hakekat dan syariat eksistensiKu
Kemudian kalian ucapkan "Allahu Akbar"
Tanpa sedikitpun rasa malu

Bahkan masjid-masjidmu, yakni rumah-rumah suciKu
Kalian pakai untuk menendangku
Sebagian dari kalian membangun rumahKu
dengan sisa-sisa uang perampokan struktural
Sebagian dari kalian menegakkan rumahKu
dengan biaya hasil mengemis-ngemis di tengah jalan

Kalian mengemis atas namaKu,
Kalian melantikku sebagai Sang Maha Pengemis
Di masjid-masjid kalian tertulis : Allah yang Maha
Fakir Miskin.
Oleh karena itu setiap orang perlu menaruh rasa belas
kasihan kepadaKu
Dan jika datang seorang koruptor membereskan semua
pembiayaan masjid itu,
dialah yang kau puji-puji dan kau sanjung-sanjung
 

seperempat abad tidak lah lama…

adymoralist

Ketika engkau terlahir menangis menatap dunia maka orang sekitarmu tersenyum bahagia dengan kehadiranmu, mungkinkah ketiadaanmu menjadikan kenangan indah yg tak dapat dilupakan dengan nilai-nilai yang bermanfa'at engkau tabur tumbuh subur bagi ummat manusia umumnya.

Terlahir lalu meninggalkan bukanlah sebuah fenomena yang singkat dari sebuah kehidupan. Banyak tingkatan masa yang telah engkau enyam sehingga semua itu adalah pembelajaran dalam hidupmu. Kini masa remaja sedang engkau jalani walau kata jodoh juga blom terealisasikan. Apakah mesti manunggu senja untuk menjemput itu.

Tentunya masih teramat banyak potensi dirimu yang dapat engkau salurkan sehingga menghasilkan sebuah nilai-nilai yang lebih konstruktif bermafa’at bagi dirimu dan orang lain umumnya.

Terlebih lagi dengan umurmu yang menginjak seperampat abad ini justru potensi syukurmu harus lebih bertambah. Untuk lebih mengaktifkan kembali seluruh fungsi organ tubuhmu. Untuk selalu mencari ilmu selalu menganalisis selalu memaknai selalu memiliki tradisi untuk menemukan makna dan nilai disetiap benda disetiap yang didengar disetiap yang dilihat dan disetiap yang dilakukan.

Sekalipun dalam perjalanan panjangmu banyak rintangan dan masalah yang menimpamu maka bersabarlah karna sebesar apapun masalah itu menindih dan menimpamu insyaAllah akan selesai akan beres akan meleleh asalkan engkau bergabung melebur didalam kuasa dan kasih sayang tuhanmu yang maha besar.

Tuesday, April 22, 2008

etika Cinta

adymoralist

etika Cinta

aku bukanlah siapa-siapa baginya
tapi dia bagiku adalah cinta
ketika engkau datang kepadanya juga dengan nama cinta
tiada hak bagiku untuk menghalangimu
karna aku hanya mampu dan baru sanggup untuk mencintai
tidak lebih . . .

tetapi ketika cintamu adalah pemaksaan baginya
maka itu adalah tanggung jawabku sebagai manusia, bukan lelaki
karna aku ingin berbuat untuk cinta bukan atas dasar kelaki-lakian
tapi atas nama manusia . . .

karna aku juga tidak mengerti apa itu pacaran
yang ku tau adalah hati ini mencintainya
kalaupun engkau mengucapkan selamat bagiku
itu hanyalah etika sesama kita atas nama sahabat
dan na’uzubillah bila engkau diam-diam sopan menikam dari belakang.


Tuesday, April 15, 2008

Jendela Hati Buat Prajurit Sejati(i)

Emha Ainun Nadjib,10 April 2008

Bukan Jabatan, melainkan Jiwa

Menjadi tentara tidak sama dengan menjadi Bupati, Gubernur, Menteri atau Presiden.

Tentara itu jiwa, Presiden itu jabatan.

Jabatan Presiden akan ditinggalkan dan meninggalkan (dengan paksa) orang yang menyandangnya, sedangkan ketentaraan adalah jiwa yang menyatu dengan manusianya, adalah ruh yang tak bisa dicopot kecuali oleh pengkhianatan dan ketidaksetiaan, adalah kepribadian yang mendarah daging sampai maut tiba.

Jabatan sangat disukai oleh manusia yang menyandangnya, tetapi sangat bisa jadi jabatan diam-diam tidak menyukai manusia yang menyandangnya. Tetapi jiwa ketentaraan adalah cinta dan kebanggaan yang menangis jika manusianya mengkhianatinya, dan manusia yang mengkhianati jiwa ketentaraan itu tidak memiliki kemungkinan lain kecuali terjerembab ke jurang kehancuran.

Orang dengan jabatan akan mengalami post power syndrome, tetapi orang dengan jiwa ketentaraan tidak mengenal kata ‘post’, tidak mengenal ‘bekas’ atau mantan. Tentara boleh tidak bertugas lagi, boleh menjadi veteran, tetapi itu hanya urusan administrasi dan birokrasi formal, sedangkan kepribadian ketentaraannya tidak bisa dikelupas dari manusianya meskipun oleh kematian.

Dengan pemahaman seperti itu, maka andalan utama Prajurit dalam bermasyarakat bukanlah jabatan dan kekuasaan, bukanlah kegagahan dan kekuatan, melainkan kesetiaan dan sikap yang penuh perhatian kemanusiaan. (selengkapnya)

(Emha Ainun Nadjib,10 April 2008, PmBNetDok)

Friday, April 11, 2008

!!!

gw pengen nulis lagi ntar , mudah2an hehehe

makasih dah ngingetin :D tapi ntar !

Tuesday, March 11, 2008

Maha Satpam

Emha Ainun Nadjib

Tanya jawab pengajian itu menjadi hangat. Tak disangka tak dinyana anak muda
berpeci yang lehernya berkalung sajadah itu mendadak meningkatkan nada
suaranya.

"Saya sangat kecewa dan memprotes keras mengapa Bapak bersikap sedemikian lunak kepada orang-orang yang datang ke kuburan untuk minta angka-angka buntutan!" ia menuding-nuding. "Itu jelas syirik. Saya sebagai warga organisasi Islam yang sejak kelahirannya memang bermaksud memberantas segala takhayul, bidah, khurafat, dan syirik, akan terus memberantas gejala-gejala semacam itu dalam masyarakat kita sampai titik darah penghabisan! "

Bapak ustadz terkesima.

Isi pemikiran pemuda itu tidak aneh, meskipun bukan tidak menggelisahkan.
Namun "semangat juang"-nya ini! Apakah ia baru saja membaca sajak Chairil
Anwar "Aku" atau "Persetujuan dengan Bung Karno" sehingga voltase darahnya
meninggi? Tapi marilah bersyukur. Ini yang namanya sukses pewarisan nilai
dan semangat perjuangan dari generasi yang satu ke generasi yang lain.
Proporsi di mana dan untuk soal apa semangat itu mesti diterapkan, adalah
soal kedua.

"Adik manis, maafkan kalau saya memang khilaf," bapak ustadz berkata dengan
lembut, "Tapi saya berharap sesungguhnya aspirasi kita tidak terlampau
berbeda. Saya juga tidak bermaksud menularkan kebiasaan orang-orang tua
untuk bersifat terlalu dingin terhadap gejala-gejala. Tetapi, nyuwun sewu,
saya melihat ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Pernyataan Anda tadi
ibarat memasukkan sambal ke dalam es dawet ..."

Para jamaah tertawa, meskipun pasti mereka belum mengerti maksudnya.

"Syirik ya syirik, tapi orang mau masuk kuburan kan macam-macam maunya. Ada yang mau mencuri tengkorak, ada yang karena pusing bertengkar terus dengan istrinya yang selalu meminta barang-barang seperti yang dibeli tetangganya.
Terus terang saya juga sering masuk kuburan dan nyelempit di balik gerumbul-gerumbul karena sangat jenuh oleh acara macam yang kita
selenggarakan malam ini, jenuh diundang ke sana ke mari untuk sesuatu yang
sebenarnya tidak jelas, jenuh meladeni pertanyaan-pertanya an yang khas kaum
muslim abad ke-20 dari soal 'apa hukum merangkul rambut' sampai 'memandang
wanita itu zina atau tidak', atau jenuh oleh pikiran-pikiran puber yang akrobat pikiran intelektualnya over-dosis. Kejenuhan itu sendiri sunnatullah atau hukum alam. Tuhan mengizinkan kita untuk merasa jenuh pada saat-saat tertentu sebagai bagian dari peran kemanusiaan. Apakah buang-buang jenuh di
kuburan itu syirik?"

"Bukan itu maksud saya!" teriak sang pemuda, "Saya berbicara tentang orang
yang minta-minta di kuburan."

"Baiklah," lanjut bapak ustadz. "Syirik itu letaknya di hati dan sikap jiwa, tidak di kuburan atau di kantor pemerintah. Sebaiknya kita jangan gemampang, jangan terlalu memudahkan persoalan dan gampang menuduh orang. Saya terharu Anda bersedia memerangi syirik sampai titik darah penghabisan, namun saya juga prihatin menyaksikan Anda bersikap begitu sombong kepada orang miskin ..."

"Apa maksud Bapak?" sang pemuda memotong.

"Bikinlah proposal untuk minta biaya meneliti siapa saja yang sebenarnya suka mendatangi kuburan, terutama yang menyangkut tingkat perekonomian mereka. Kita memang tahu para pejabat suka berdukun ria dan para pengusaha mendaki Gunung Kawi, tapi siapakah pada umumnya yang berurusan dengan kuburan untuk menggali harapan penghidupan? Saya berani jamin kepada Anda bahwa 90% pelanggan kuburan adalah orang-orang yang kehidupan ekonominya kepepet. Orang seperti Anda ini saya perhitungkan tidak memerlukan kuburan
karena wesel dari orangtua cukup lancar. Di samping itu syukurilah posisi sosial Anda. Anda termasuk di antara sedikit anak-anak rakyat yang beruntung, memiliki peluang ekonomi untuk bisa bersekolah sampai perguruan tinggi. Karena Anda sekolah sampai perguruan tinggi maka Anda menjadi pandai dan mampu mengelola kehidupan secara lebih rasional. Harapan Anda untuk menjadi pelanggan kuburan termasuk amat kecil. Anda akan menang bersaing meniti karier melawan para tamatan sekolah menengah, para DO atau apalagi para non-sekolah. Kalaupun kemudian menjumpai persoalan-persoalan umum yang
menyangkut ketidakadilan ekonomi, misalnya, Anda bukan merencanakan berkunjung ke makam Sunan Begenjil, melainkan bikin kelompok diskusi yang
memperbincangkan kepincangan ekonomi dan kemapanan kekuasaan politik ..."

Seperti air bah kata-kata bapak ustadz kita meluncur.

"Kalaupun Anda ogah terlibat dalam jajaran birokrasi kekuasaan atau tempat-tempat lain yang Anda perhitungkan secara sistematik mendukung kemapanan itu, Anda masih mempunyai peluang non-kuburan, misalnya, bikin badan swadaya masyarakat. Langkah pertama gerakan ketidaktergantungan itu ialah merintis ketergantungan terhadap dana luar negeri di mana Anda bisa numpang makan, minum, merokok, dan membeli jeans baru. Langkah kedua, meningkatkan kreativitas proposal agar secara pasti Anda bisa memperoleh nafkah dari gerakan itu. Dan langkah ketiga, menyusun kecanggihan lembaga Anda sedemikian rupa sehingga Anda sungguh-sungguh bisa mengakumulasikan kekayaan, bikin rumah, beli mobil, dan memapankan deposito. Juklak saya untuk itu adalah umumkan ide-ide sosialisme perekonomian sebagai komoditi kapitalisme perusahaan swadaya masyarakat Anda. Kemiskinan adalah ekspor non-migas yang subur bagi kelompok priyayi pembebas rakyat di mana Anda bisa bergabung .."

Bapak ustadz kita sudah tak terbendung lagi.

"Dengan demikian Anda bisa selamat dari budaya kuburan sampai akhir hayat.
Hal-hal semacam itu tidak bisa dilakukan oleh orang-orang miskin yang hendak
Anda berantas syiriknya itu. Mereka tak mampu membuat proposal, takut kepada Pak Camat dan Babinsa, karena bagi mereka lebih mengerikan dibandingkan dengan hantu-hantu kuburan. Satu-satunya kesanggupan revolusioner yang masih tersisa pada orang kecil yang melarat adalah minta harapann secara gratis ke kuburan."

Suasana pengajian menjadi semakin senyap.

"Bapak ini ngomong apa?" potong sang pemuda lagi.

"Kepada siapa dan apa sajakah Allah cemburu pada zaman ini? Siapakah atau
apakah yang dituhankan orang di negeri Anda ini? Apa yang didambakan orang
melebihi Tuhan? Apa yang dikejar diburu melebihi Tuhan? Apa yang ditakuti orang melebihi Tuhan? Apa yang sedemikian menghimpit memojokkan menindih orang seolah-olah berkekuatan melebihi Tuhan? Apa dan siapa yang mendorong orang tunduk, patuh, dan loyal sepenuh hidup kepadanya melebihi Tuhan? Apa yang memenuhi pikiran orang, memenuhi perasaan dan impian orang lebih dari keindahan Tuhan? Lihatlah itu, pikirkan dan terjemahkan melalui pikiran kebudayaan Anda, pikiran sosial Anda, pikiran politik Anda, pikiran ekonomi Anda, perhitungan struktural Anda ..."

Suara bapak ustadz kita menjadi agak gemetar meskipun nadanya meninggi.

"Beranikah Anda berangkat memberantas syirik-syirik besar yang dilatari oleh kekuasaan, senjata, dan fasilitas? Beranikah Anda berperang melawan diri Anda sendiri untuk mengurangi sikap gemagah kepada orang-orang lemah? Sanggupkah Anda mengalahkan obsesi kehidupan Anda sendiri untuk merintis peperangan-peperang an yang sedikit punya harga diri?"

Napas mulai agak tersengal-sengal.

"Anda begitu bangga menjadi satpam kehidupan orang lain. Bahkan Anda tampak bermaksud menjadi maha satpam yang memberantas syirik sampai titik darah yang terakhir. Tetapi Anda menodongkan laras senjata Anda ke tubuh semut-semut yang terancam oleh badai api sehingga menyingkir ke kuburan sepi. Itu karena mata pengetahuan Anda tak pernah dicuci kecuali oleh ulama-ulama yang memonopoli kompetisi pemikiran keagamaan, padahal mereka begitu malas mencuci mata ummatnya, kecuali untuk soal-soal yang menyangkut kepentingan posisi mereka. Anda sudah tahu wajib, sunat, halal, makruh, dan haram, tetapi itu hanya diterapkan untuk hal-hal yang wantah. Anda hanya bertanya orang sudah salat lohor atau belum, orang ke kuburan atau tidak, si keponakan sudah pakai jilbab atau belum, mengapa Cut Nyak Dien mengelus-elus paha Teuku Umar padahal itu film citra Islam. Anda tidak merintis penerapan kualifikasi hukum lima itu untuk persoalan-persoalan yang lebih luas, Anda tidak pernah mempersoalkan
bagaimana sejarah politik perekonomian dari tikar plastik yang setiap hari Anda pakai sembahyang. Anda marah kenapa Cristine Hakim tidak pakai jilbab padahal ia muslimah, tetapi telinga Anda tuli terhadap kasus penggusuran, terhadap proses pembodohan lewat jaringan depolitisasi, terhadap proses pemiskinan, terhadap ketidakadilan sosial yang luas. Anda tidak belajar tahu apa saja soal-soal yang kualitasnya wajib dalam perhitungan makro struktural. Anda hanya sibuk mengincar orang masuk kuburan. Anda merepotkan diri mengurusi sunah-sunah dan tidak acuh terhadap kasus-kasus yang wajib respons sifatnya ..."

"Pak! Mengapa jadi sejauh itu ...?" sahut sang pemuda.

"Dengar dulu, anak muda!" tegang wajah sang bapak. "Itu yang menyebabkan Anda tidak memiliki perhitungan yang menyeluruh untuk akhirnya menemukan hakikat kasus syirik yang sebenarnya. Anda hanya sanggup melihat seseorang mencuri. Anda hanya tahu bahwa mencuri itu hukumnya haram, padahal melalui relativitas konteks-konteks, pencuri itu bisa halal sifatnya ..."

"Apa-apaan ini Pak?" sang pemuda nyelonong lagi.

"Kita ini dibesarkan dalam kekalahan-kekalahan . Dalam rasa ketidakmungkinan
menang, subyektivitas kita tumbuh subur. Kalau kita bercermin dan menjumpai
wajah kekalahan di biliknya, kita ciptakan kemudian c ermin yang mampu
menyodorkan halusinasi kemanganan kita. Kalau kita tak punya biaya naik
haji, naiklah kita ke puncak Gunung Bawakaraeng dan merasa telah naik haji.
Kalau tak sanggup perang melawan kekuatan manusia, kita cari tuyul untuk
kita taklukkan. Kalau tak ada juga peluang untuk tampil di panggung sejarah,
kita berduyun-duyunlah ke panggung narkotik kebudayaan di bidang ndangdut,
diskotik si boy, atau mengangkat seorang pencoleng menjadi dermawan sehingga hati terhibur. Kalau risi berpegang pada pilar-pilar kufur dan tak sanggup bersandar pada udara, maka melianglah kita pada lubang sempit pengetahuan keagamaan kita yang muallaf dan nadir. Kita tak kuat naik gunung, kita susun gunung-gunung dalam tempurung. Kita menjadi "negara" dalam pesta syariat dangkal ummat di sekeliling kita.. Kita mengawasi muda-mudi yang berboncengan motor, kita menelepon pasien-pasien kita di pagi buta untuk mengecek apakah ia sudah salat subuh, kita sembahyang jamaah sambil melirik
apakah orang di samping kita sudah cukup khusuk sembahyangnya. Kita menjadi puritan, menjadi "manusia amat lokal". Kita mendirikan kekuasaan baru di mana kita adalah penguasanya ..."

Sang pemuda tak bisa tahan lagi, "Maaf Pak! Berilah saya sedikit peluang ..."

Tapi air bah terus tumpah ke bumi.

(Emha Ainun Nadjib/"Slilit Sang Kiai"/Graffiti/ PmBNetDok) .

Friday, February 29, 2008

Buat Saudaraku dimanapun dikau berada

adymoralist

What U feel , after watching it,
Sungguh luar biasa ketulusan hati manusia. Kejujuran hati tak dapat untuk dipungkiri, sekejam apapun itu manusia. Tapi ia masih memiliki filter yang sangat tajam dan dalam yang tak dapat dijangkau oleh akal. Ia dapat mentransfer nilai-nilai kebenaran yang tak bisa dihasilkan oleh akal.


Dengan hati engkau juga dapat berkomunikasi dengan tuhanmu. Dalam renungan heningmu, engkau bisa mencoba flashback kembali tentang hidupmu dengan tawa, senyum dan linangan airmata.


Dendam yang membara, emosi yang tak terkendali, suka berburuk sangka, atau segala hal-hal yang bernilai negative dapat engkau olah dengan hati menjadi sebuah hikmah.


Buat suadara-saudariku kecil atau besar adik atau kakak ketika engkau telah galau dalam kebuntuan. Aku yakin engkau mencari hal-hal yang sejati, namun yakinlah semua itu ada disisi Sang Pencipta. Temukanlah kesejatian itu dalam kesunyiamu bersamaNya. Dan sangat bersyukur bila engkau dapat menghadirkan-Nya di setiap hela nafasmu.


"For U. I relly relly love U whereever U'r. I wish, nostalgic can be with U in helping"


Thursday, February 28, 2008

Kenduri Cinta

Emha Ainun Nadjib

Kata ‘cinta’ dimaknai seluas mungkin, komprehensif dan holistik. ‘Clean government’, misalnya adalah manifestasi cinta kemanusiaan, universal, dalam skala nasional, dimana sejumlah orang yang digaji oleh rakyat karena dipercaya untuk menjalankan mekanisme penyejahteraan seluruh rakyat - berkewajiban menciptakan pemerintahan yang bersih. Pemerintahan yang korup adalah pengingkaran atas profesionalisme politik, sekaligus pengkhianatan cinta. Kepala negara atau Wakil Rakyat ‘diberi ruang’ oleh rakyat dengan tugas agar mereka menciptakan ‘ruang’ bagi rakyat. Jika keduanya hanya berperan merepotkan rakyat, hanya menjadi ‘perabot’ dimana rakyat yang harus terus menerus menampung perilakukanya dan memaklumi kesalahan-kesalahan – itu adalah bentuk disharmoni cinta. Yang berhak menjadi ‘perabot’ dalam kehidupan, yang berhak sepenuhnya diakomodasikan tanpa mengakomodasikan, hanya bayi. Dengan kata lain, jangankan pemimpin masyarakat, atau apalagi pengurus negara yang dibayar rakyat, sedangkan manusia biasa saja jangan menjadi seperti bayi. Manusia adalah subyek yang mengatasi masalah, bukan yang justru menjadi masalah...

Wednesday, February 27, 2008

Kadar Kesetiaan

Emha Ainun Nadjib

Sedemikian tinggi dan mendalamkah seorang hamba Allah mesti
terbang dan melayang ke semesta ilmu dan kemuliaan? Tidakkah
manusia bisa bersikap wajar dan biasa-biasa saja? Ataukah itu
alibi untuk memaafkan kelemahan diri, keterbatasan, dan
kekurangannya dalam melakukan sesuatu?

Jangan dengarkan suaraku, karena suaraku buruk. Dengarkanlah
suara Tuhan...

Kalau suaraku buruk, orang justru akan sangat mengingatnya
karena tersiksa. Kalau suaraku agak bagus, orang mengingatnya,
tapi dengan kadar yang lebih rendah dibanding ingatan terhadap
suara buruk -- sebab kecengengan manusia terhadap penderitaan
cenderung lebih besar dibanding rasa syukurnya terhadap
kegembiraan.

Dengan ungkapan dan jawaban saya itu kenapa kau terpaku pada
suaraku? Di situlah letak ketidakberhasilan yang saya maksud.
Orang menikmati terangnya lampu tanpa mengingat kabel listrik.
Orang menikmati makanan enak di warung dan tidak bertanya
siapa nama orang yang memasaknya di dapur. Penyanyi, pembaca
puisi, qari, pelukis, muballigh, penyampai ilmu, pembawa
hikmah, atau fungsi-sungsi nilai apa pun, hanyalah 'kabel
listrik'.

Tidaklah senonoh kita menuntut orang untuk mengagumi kita
sebagai kabel listrik, sebab yang sampai ke mereka adalah
cahaya. Tukang listrik jangan kasih dan taruh lilitan
kabel-kabel ke wajah orang. Kita para seniman, ulama, pengurus
negara, pekerja sosial, fungsionaris-fungsionaris sejarah, di
wilayah mana pun dari kehidupan umat manusia -- wilayah mana
pun dari kehidupan umat manusia -- hanyalah pengantar cahaya,
bukan cahaya itu sendiri. Seperti rembulan, kita hanya
memantulkan cahaya matahari agar menimpa bumi. Terkadang kita
malah merekayasa berlangsungnya gerhana matahari untuk
mengantarkan kegelapan, tetapi sambil memobilisasi orang untuk
mengagumi kita.

Seandainya pun sebagai rembulan kita setia memantulkan rahmat
Tuhan ke bumi kehidupan manusia, yang kita andalkan untuk
mendapatkan nilai bukanlah cahaya itu sendiri, melainkan kadar
kesetiaan.

Tuesday, February 26, 2008

Sayap-Sayap Kerbau

Emha Ainun Nadjib

Di tengah padang yang terbuka luas, dua orang musafir berdebat tentang sebuah
titik hitam yang tampak nun jauh di depan. Yang seorang menya¬takan, titik itu
tak lain seekor kerbau. Sementara lainnya sangat meyakini, itu seekor banteng.
Riuh rendah mereka berdebat dengan argu¬mentasinya. Karena tidak ada titik temu,
satu-sa¬tunya jalan yang mereka sepakati adalah bersege¬ra mendatangi titik itu
ke tempatnya.
Maka, mereka pun berjalan menyusuri pa¬dang, sambil terus berdebat, beradu
wacana, mempertandingkan acuan, referensi dan penga¬laman. Sampai akhirnya
mereka hampir tiba di titik yang ditu¬ju. Namun, sebelum mereka melihat persis
apa gerangan ia, titik itu tiba-tiba melesat, terbang dari tempatnya,
melayang-layang ke angkasa.
"Burung!'; kata salah seorang, "Apa saya bilang:' "Tidak bisa!" sahut lainnya.
Keduanya berlari mendekat, meskipun si benda terbang itu melesat makin jauh dan
tinggi. Akhirnya, mereka berhenti de¬ngan sendirinya dengan napas
terengah-engah.
"Kerbau!" kata orang kedua.
"Kerbau bagaimana?" orang pertama membantah, "Sudah jelas benda itu bisa
terbang, pasti burung!"
"Kerbau!" orang kedua bersikeras, "Pokoknya kerbau! Mes¬kipun bisa terbang,
pokoknya kerbau!"
Saya doakan dengan tulus ikhlas semoga Allah melindungi Anda dari kemungkinan
memiliki teman, saudara, istri, reka¬nan kerja, direktur, bawahan, pemerintah,
penguasa, pemimpin atau apa pun, yang wataknya seperti si pengucap kerbau itu.
Kalau nyatanya Anda telanjur memiliki sahabat kehidupan yang habitat mentalnya
seperti itu, saya hanya bisa menganjur¬kan agar Anda bersegera menyelenggarakan
ruwatan bagi nasib Anda sendiri. Atau, tempuhlah cara yang lebih relegius: puasa
empat puluh hari, salat hajat tiap malam, mencari wirid-wirid paling sakti yang
memungkinkan Anda terlindung oleh para malaikat Allah dari spesies manusia
semacam itu.
Cobalah kata "kerbau" itu Anda ganti dengan kata lain. Um¬pamanya reformasi.
Kata "terbang" bisa Anda ganti dengan kata lain, yang relevan terhadap
reformasi. Ucapkan kata-kata sema¬cam tokoh kita itu: "Meskipun saya
mempertahankan agar sega¬la sesuatunya harus tetap mapan, stabil dan bun¬tu,
tapi yang penting pokoknya saya ini pendu¬kung reformasi!" ,
"Meskipun saya bisa sampai ke wilayah yang serba menggiurkan ini, serta duduk di
kursi yang penuh wewangian ini berkat proses dan mekanis¬me nepotisme dan
feodalisme, tapi yang penting pokoknya saya antinepotisme.”
"Meskipun terus terjadi ketertutupan, pembungkaman dan pemusnahan, tapi pokoknya
ini keterbukaan dan demokrasi:'
"Meskipun saya berbuat tidak adil, tapi po¬koknya saya anjurkan agar
saudara-saudara berbuat adil:' "Meskipun habis-habisan saya melanggar hukum,
tapi po¬koknya saya ini penegak hukum"
"Meskipun sebagai pihak yang diamanati oleh rakyat dan digaji oleh rakyat, saya
tidak pernah minta maaf kepada rakyat atas terjadinya kebangkrutan negara dan
krisis total, tapi yang penting pokoknya saya bukan pemerintah yang buruk:'
"Meskipun kita kandas di landasan, tapi yang penting po¬koknya ini adalah
tinggal landas:'
"Meskipun harga bukan hanya naik tapi lompat galah, yang penting pokoknya ini
bukan kenaikan melainkan penyesuaian.”
Memang tidak ada makhluk Tuhan yang cakrawala ke¬mungkinannya melebihi manusia.
Manusia adalah sepandai¬-pandainya makhluk, namun ia bisa menjadi
sedungu-dungunya hamba Tuhan. Ular saja mengerti persis kapan ia harus makan,
seberapa banyak yang sebaiknya ia makan, serta kapan ia mesti berhenti makan.
Sementara manusia makan kapan saja, me¬nangguk keuntungan tak terbatas
sebanyak-banyaknya - sean¬dainya ia tak dibatasi oleh maut.
Manusia itu paling lembut, tapi ia juga yang paling kasar. Manusia bisa mencapai
kemuliaan kepatuhan kepada Tuhan, namun ia juga mampu melorot ke titik paling
nadir untuk ban¬del, mokong, mbalela dan makar. Untunglah, Allah itu sendiri
adalah khoirul makirin: sebaik-baiknya pelaku makar.
Manusialah mahluk Allah termulia. Ahsani taqwim. Tapi ia juga yang paling hina
dan paling rendah. Asfala safilin.
Doa kita hanya sekalimat: "Ya Allah, makhlukMu yang asfa¬la safilin, tolong
jangan izinkan punya kekuasaan dan meme¬gang senjata. Amin."

Monday, February 25, 2008

Pencerahan dan Ketercerahan

Emha Ainun Nadjib

Kalau Anda orang Islam alangkah indahnya kalau serajin dan
sedalam mungkin Anda menggali nilai-nilai Islam untuk Anda
kontribusikan kepada seluruh bangsa kita, agar proses-proses
demokrasi, keadilan dan penyejahteraan yang kita lakukan
bareng-bareng ini semakin effektif.

Di kulit luar Al-Qur'an bagian belakang, biasanya ditulis
firman Allah La yamassuhu illal muthahharun. Biasanya
ustadz-ustadz kita mengartikan bahwa kalau kita sedang dalam
keadaan batal dan belum berwudlu, maka dilarang menyentuh
Al-Qur'an. La itu tidak atau jangan. Yamassu itu menyentuh. Hu
itu kata ganti untuk Al-Qur'an. Illa itu kecuali. Muthahharun
itu orang-orang yang dalam keadaan suci. Sekali lagi, sebelum
pegang Qur'an, kita berwudlu dulu, supaya muthahhar.

Itu tidak salah, dan bagus untuk pendidikan dasar etika
vertikal keislaman. Tapi sebaiknya tidak tertutup bagi
pengembangan interprestasi. Misalnya, kita ambil dua hal. Yang
pertama, yang disebut Qur'an dalam tafsir dasar di atas
sebenarnya adalah mushaf. Terdiri dari kertas dan goresan
tinta. Itu yang jangan dipegang kalau dalam keadaan batal.
Pastilah Qur'an bukan kertas dan tinta. Qur'an adalah suatu
rumusan dan tuturan firman, yang bersifat rohaniah
(intelektualitas itu rohaniah), yang diantarkan oleh bahasa
atau peralatan budaya manusia melalui kertas dan tinta. Dulu
malaikat Jibril tidak datang dari langit kepada Muhammad SAW.
membawa berkas buku, melainkan membawa titipan ucapan Tuhan.

Ketika dikatakan 'Bacalah !', bukan berarti Jibril menyodorkan
kertas yang ada tulisannya dan Muhammad disuruh membaca.
'Membaca' di situ memiliki pengertian yang sangat-sangat luas.
Intinya: membaca kehidupan. Utsman ibn Affan yang kemudian
mempelopori pe-mushaf-an rohani Qur'an itu.

Jadi mushaf adalah suatu sarana budaya atau fasilitas
teknologi yang mengantarkan Qur'an kepada manusia. Maka, la
yamassuhu, tidak (bisa, boleh) menyentuh, sasarannya bukan
terutama mushaf, melainkan substansi Qur'an itu sendiri. Oleh
karena itu pengembangan interpretasi atas ayat Allah yang
menghiasi kulit belakang mushaf itu, bisa begini: Kalau jiwamu
tidak berada dalam keadaan muthahhar, enlighted, tersucikan,
maka engkau tidak berada di dalam koridor hidayah dan fungsi
Qur'an bagi kehidupanmu.

Katakanlah ada beberapa fungsi Qur'an, umpamanya: ia bukan
hanya informasi, tapi juga informasi yang pasti benar. Ia
bukan sekedar pemberitahuan, tetapi petunjuk. Ia bukan sekedar
berita, tapi kabar gembira. Ia bukan hanya penuturan ilmu,
tapi juga rahmat. Ia bukan hanya perintah, tapi rahasia ilmu.
Ia bukan hanya ketegasan kebenaran, tapi juga cinta dan
kedamaian yang matang. Ia bukan hanya selebaran tentang iblis
dan setan, tapi juga rangsangan eksplorasi fisika, biologi,
astronomi. Serta banyak lagi.

Manusia yang pikirannya skeptis terhadap Qur'an, yang hatinya
blocked-out dari firman pamungkas Allah itu, yang sikap
hidupnya mempergelap dirinya sendiri, logis kalau tidak
memperoleh sentuhan apapun dari multi-probabilitas rahmat
Allah melalui Qur'an. La yamassuhu illal muthahharun. Tidak
memperoleh apa-apa darinya kalau menolak enlightment.

Dan kalau memang kita memilih yang ini, tak ada masalah bagi
Tuhan, Muhammad atau siapa pun saja. Allah tidak menangis,
Muhammad tidak merugi, Islam tidak merasa kurang suatu apa.
Sebab Islam tidak akan mendapatkan risiko apa-apa, ia bukan
manusia yang harus bertanggung jawab kepada sumbernya.

RENDRA DALAM MAKNA

Muhammad Ainun Nadjib Rendra yg kami cintai Berpindah rumahnya Dari penglihatan dan pengetahuan Menuju rumah sejati abadi Yg bernama makna, ...