Emha Ainun Nadjib
Sahabat saya yang berhati emas pada suatu larut malam di Malioboro Yogya menjumpai seorang penjual gudeg yang tampak agak menggigil karena kedinginan.
Sahabat saya tahu orang ini berjualan gudeg setiap malam sampai dinihari. Ia membayangkan dalam beberapa tahun paru-parunya akan basah, keseluruhan badannya akan sakit-sakitan, dan akan cepat berangkat tua.
Maka jaket yang ia pakai, langsung ia berikan kepada si penjual gudeg.
Yang sahabat saya tak sadari adalah bahwa penjual gudeg ini seorang gadis, perawan, yang wajahnya cukup manis. Maka esoknya tersebar berita dalam komunitas gudeg Yogya bahwa sahabat saya itu naksir si penjual gudeg, sehingga memberinya jaket dalam rangka melakukan pendekatan.
Si perawan ini sendiri beranggapan demikian sehingga ia merasa sahabat saya ini sedang menjanjikan sesuatu yang akan dikembangkannya lebih lanjut. Maka ketika kemudian sahabat saya tidak melakukan apa-apa lebih lanjut, si perawan merasa kecewa, sakit hati, sementara warga komunitas gudeg yang lain menganggap bahwa sahabat saya ini mempermainkan si perawan gudeg.
Rupanya budaya dalam rangka sudah benar-benar memasyarakat. Kalau seseorang memberi, menyumbang, melakukan kebaikan, dipahami sebagai upaya untuk menggapai sesuatu di luar kebaikan itu.
Kebaikan sukar berdiri sendiri dan murni sebagai kebaikan itu sendiri. Kebaikan selalu dalam rangka, dalam pamrih, dalam niat-niat lain yang tersembunyi, yang belum tentu bersifat baik.
(Emha Ainun Nadjib/Seri PadangBulan (133)/1999/PmBnetDo k)
Kampung Damai
( peace village )
Friday, June 13, 2008
KEBAIKAN DALAM RANGKA
Wednesday, June 4, 2008
Puisi Patah Hati
adymoralist
Puisi patah hati*
Maka jangan sekali-kali mencoba merusak hatimu untuk menuntut keadilan tuhan
Dan kalaulah engkau mencintainya hanya Sekedar atas landasan cinta
Maka janganlah heran engkau mabuk kepayang kehilangan tempat bergantung
Bukanlah tempat engkau bergantung segalanya
Manfa'atnya raahatu-l-qulub Bukan asshamad
Memberi dengan tulus, bukan berarti Harus menerima balasan
cinta oh cinta...
engkau disatukan dengan ijab dan qabul
terbina dalam rumah tangga penuh ridha dan kasih sayang
mawaddah, sakinah dan barakah dari Allah
wa jama'a bayna-kuma fi khair
Wednesday, April 23, 2008
BERDZIKIR HAMBAKU, BERDZIKIR
Emha Ainun Nadjib
Kalian berdzikir "Subhanallah"
Maha Suci Allah, Maha Suci Allah
Apa benar kalian mensucikan Aku?
Apa benar kehidupan kalian mensucikan Aku?
Apa benar watak dan perilaku kalian, kebudayaan
dan kemajuan bangsa kalian - mensucikan Aku?
Kalian berdzikir "Alhamdulillah"
Segala puji bagi Allah, Segala puji bagi Allah
Apa benar perekonomian kalian memuji Aku?
Apa benar gedung-gedung kalian, kantor-kantor kalian,
pertimbangan dan keputusan kalian, kasih dan sepak
terjang kalian
- memuji Aku?
Kalian berdzikir "Wa lailaha illallah",
Tiada tuhan selain Allah
Hai hamba-Ku, apa benar Akulah yang kalian tuhankan?
Apa benar Aku faktor primer dalam bagan strategi
sejarah kalian?
Apa benar Aku yang nomor satu di dalam kerangka akal
dan susunan pikiran kalian
Apa benar cinta kalian mendasar kepadaKu?
Apa benar Aku sedang menarik hati kalian,
dibanding uang, keuntungan dan kekuasaan dunia?
Kalau Aku ikut Kontes Idola, apakah kalian kirim sms
untuk memenangkan
Aku?
Kalian berdzikir "Allahu Akbar"
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar
Wahai hamba-Ku, apa tanda kebesaranKu
di negeri penyembah berhala yang kalian
bangga-banggakan ini?
Di bagian mana dari kebudayaanmu,
Di sebelah mana dari langkah politikmu
Di sudut mana dari gedung-gedung megah industrimu
Yang mencerminkan keunggulanKu?
Kau lakukan kedhaliman di sana-sini
Merata di seantero negeri
Kedhaliman yang samar sampai yang transparan
Kedhaliman struktural, sistemik
Bahkan kedhaliman yang telanjang dan kasat mata
Kedhaliman bahkan kepada dzatKu
Kepada hakekat dan syariat eksistensiKu
Kemudian kalian ucapkan "Allahu Akbar"
Tanpa sedikitpun rasa malu
Bahkan masjid-masjidmu, yakni rumah-rumah suciKu
Kalian pakai untuk menendangku
Sebagian dari kalian membangun rumahKu
dengan sisa-sisa uang perampokan struktural
Sebagian dari kalian menegakkan rumahKu
dengan biaya hasil mengemis-ngemis di tengah jalan
Kalian mengemis atas namaKu,
Kalian melantikku sebagai Sang Maha Pengemis
Di masjid-masjid kalian tertulis : Allah yang Maha
Fakir Miskin.
Oleh karena itu setiap orang perlu menaruh rasa belas
kasihan kepadaKu
Dan jika datang seorang koruptor membereskan semua
pembiayaan masjid itu,
dialah yang kau puji-puji dan kau sanjung-sanjung
Subscribe to:
Posts (Atom)
Design by Blogger Templates